Tak dapat dipungkiri bahwa era digitalisasi telah memakan banyak aspek kehidupan. Dari bidang jasa, makanan, sandang, papan, sampai dengan kegiatan sosial. Salah satu tokoh Filsuf Rusia “Ayn Rand” bahkan mengatakan “Jika kabut asap merupakan risiko bagi kehidupan manusia, kita harus ingat bahwa kehidupan di alam, tanpa teknologi, adalah kematian yang besar.” Sebegitu pentingnya bukan manusia dalam mengikuti kemajuan teknologi yang terus berkembang?

Oleh karena itu, para penggiat sosialpun mulai memanfaatkan hal ini. Salah satunya dengan pemanfaatan sosial media dan digital marketing. Mereka berbondong-bondong mengangkat isu-isu sosial kemanusiaan serta menggiring publik untuk terus berderma, karena menurut Din Syamsudin, karakter dermawan yang ada pada masyarakat Indonesia sudah mendarah daging dan dapat dilihat dari gerakan masyarakat sendiri pada saat berbagai masalah melanda bangsa.

Digitalisasi fundraising semakin banyak menggaet donatur. Ini buktinya!

Salah satu lembaga yang menguatkan filantropi melalui media sosial adalah Aksi Cepat Tanggap, lembaga non profit yang berdiri sejak 2005 ini terus menggemborkan isu-isu kemanusiaan, kemiskinan, bencana alam dan local, serta pendidikan melalui media sosial mereka (facebook, Instagram, twitter, blog, email) bahkan mereka membangun situs media sendiri baik online maupun offline.

Di sinilah peran penting digital marketing demi menguatkan sisi kedermawanan masyarakat. Serta merta mengedukasi mereka untuk terus merasakan apa yang dirasakan para penyintas bencana, tunawisma, orang-orang yang menderita penyakit menahun, dan lainnya. Seakan serangan udara memborbardir lubuk hati para dermawan untuk terus peduli dan berbagi. Selain itu, para pencetus crowdfunding juga tak luput dari pemanfaatan media sosial seperti kitabisa.com, gandengtangan, dll. Saat ini bahkan merekapun hadir di channel youtube, ACT sendiri sudah mendapat 79 ribu subscriber dimana konten-kontennya merupakan pemberitaan dan update-update terkait isu-isu kemanusiaan. Salah satu kesuksesan Kitabisa.com, situs penggalangan dana dan donasi secara online yang dirintis sejak 2013. Dilansir dari bisnis.com per April 2017, dana yang terkumpul dari publik mencapai Rp 100,16 miliar yang berasal dari 4.707 kampanye/proposal online dan  275 ribu donatur.

Demikian juga dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang lebih berpengalaman mengelola dana umat sejak 2005 silam, juga mengalami perkembangan yang sangat signifikan berkat  pemanfaatan teknologi internet serta praktek penggalangan dana yang baik. Berdasarkan laporan keuangan Yayasan Aksi Cepat Tanggap yang mengalami kenaikan setiap tahunnya, dan pada tahun 2018 penerimaan dana kemanusiaan mencapai Rp 516,3 miliyar dari tahun sebelumnya 2017 yang mengumpulkan Rp 262 miliyar serta penghimpunan dana Zakat sebesar Rp 707 juta. Dan dari penerimaan ini total penyaluran dana kemanusiaan adalah sebesar Rp 509 miliyar serta penyaluran zakat sesuai syarat delapan ashnaf sebesar Rp 233 juta.

Beberapa alasan mengapa sosial media dan digital marketing sangat berpengaruh terhadap penguatan filantropi di Indonesia adalah :

  1. Cepat dan tepat sasaran
  2. Tertarget
  3. Tidak terbatas pada segmen
  4. Mudah dan dapat diakses dimana saja
  5. Tak terbatas waktu bahkan online 24 jam
  6. Bisa langung transaksi real time

Terakhir, Presiden Aksi Cepat Tanggap, Drs. Ahyudin mengatakan “Bencana adalah cara langit mendewasakan bangsa besar ini, yang saat tahun-tahun awal kemerdekaan saja sudah gagah berani mengirim bantuan pangan untuk rakyat Afrika yang kelaparan. Maka kami yakin, matematika bencana bangsa ini tidak jelek dan tidak buruk, bersama kita pasti bisa!‎